Senin, 05 Maret 2018

Setelah Mati Suri

0

Hai-hai, gue comeback nih. Udah berapa abad gue nggak nulis di blog ini? Lama banget *bersihin sarang laba-laba*

Oke, sekarang gue udah kelas 2 MA. Padahal terakhir kali nulis di sini itu tahun ajaran baru kelas X, lah ini udah kelas XI semester 2, setahun setengah nggak nulis. Wew. Sebelas hari ke depan gue PTS. Putus? Bukan, ini istilah baru untuk UTS. Setelah diterapkannya kurikulum 2013,  penyebutan UTS diganti dengan PTS (Penilaian Akhir Semester). Begitu juga dengan UAS, sekarang diganti dengan PAS. Agak gimana gitu, tapi ya udahlah, haha. Sebelas hari ke depan akan menjadi hari paling panjang. 24 jam akan menjadi 34 jam. Kenapa ujian gue lebih panjang daripada sekolah lain pada umumnya? Karena sekolah gue anti mainstream. Berani beda. Mapelnya mencakup ilmu umum dan ilmu agama, kalau kalimat promosinya sih gini, tidak ada dikotomi antara ilmu umum dan ilmu agama. Otomatis, karena pelajarannya banyak, maka hari ujiannya juga lama. Apa kabar PTS gue? Gue nggak bisa ngerjain soal-soalnya, di kelas ngantuk mulu. Ya, gue memang pelajar teladan, sangat. Jadi jangan heran, wkwkwk. Bahkan gue nggak bisa ngerjain materi wajib jurusan Bahasa. Bedain frasa sama klausa aja aku tak mampu. Sebagai anak Bahasa aku merasa gagal. Sad.

Hmm, enaknya ngomongin apa ya? Mau ngomongin soal suasana politik dalam negeri rasa-rasanya nggak cocok kalau dicocokin sama muka gue, yakali wajah kriminal bahasnya tentang politik :v Mau ngomongin perkembangan perekonomian dalam negeri, apalah daya, ngerjain soal Ekonomi Lintas Minat aja megap-megap.

Baiklah, gue kayaknya mau bahas tentang kesibukan gue akhir-akhir ini (gaya banget). Ya, seperti makhluk-makhluk bumi lainnya, gue sibuk bernapas, menghirup udara, makan, mencerna makanan, tidur. Sibuk banget kan gue?

Hamdalah, akhir-akhir ini gue sibuk organisasi (cielah). Rapat sana sini, ngerjain tugas ini itu, banyak (please, jangan percaya, hoax :v). Selain menjadi pengurus OSIS di sekolah dengan jabatan yang sebenarnya sangat tidak dibutuhkan, wkwkwwk,  gue lumayan aktif juga di IPPNU (Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama) di desa gue. Hampir setahun belakangan gue ikut berkecimpung (Eh apa? Nyemplung?) di organisasi ini. Waktu awal-awal gue ikut, anggotanya belum terlalu banyak, dan kegiatannya pun masih belum jelas. Tapi alhamdulillah, sekarang anggotanya lumayan bertambah dan kegiatannya sudah semakin jelas. Remaja-remaja dan pelajar di desa gue sebenarnya banyak, tapi mungkin yang ikut organisasi ini hanya 10%nya saja. Antara karena mereka malas berorganisasi atau kitanya yang kurang sosialisasi, nggak tahu juga deh. Gue senang bisa ikut organisasi ini. Banyak bentuk, karakter, sifat manusia hidup yang gue temukan di sini. Dari sini setidaknya gue belajar bahwa dunia luar sana nggak senyaman kamar gue, haha. Kadang gue mikir keras dengan sifat-sifat mereka, karakter yang belum pernah gue temuin di sekolah dan lingkungan lainnya, gue bisa temukan disini. Karakter si baik, si sok penting, si sensitif, si pintar, si kamvret, si gombal, dan si si yang lain. Dari sini gue juga tambah pengalaman, soalnya kita berasal dari beda-beda sekolah. Jadi, bisa tukar pikiran. Dan, gue bisa punya teman cowok, itu bonusnya (Jangan bilang siapa-siapa, wkwkwk). Kebetulan setiap kegiatan antara IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) dan IPPNU itu digabung, jadi mau nggak mau ya pasti ketemu dan kerja sama. Awal-awal gue agak risih juga, tapi lama-lama juga terbiasa, yang penting niatnya, ehe. Harus bisa jaga hati, demi melestarikan gerakan jomblo fi sabilillah, ea. Give me applause, please!


Buat ginian biar apa? Biar bisa diupload di story WA ;V


Minggu lalu, tepatnya hari Jum'at kita memberanikan diri buat ngadain acara. Tidak terlalu besar, acara kecil-kecilan, sederhana saja. Awalnya takut untuk memulai, tapi darimana kita mau berkembang jika memulai saja tidak berani? Dengan kebulatan tekad akhirnya kita memberanikan diri, sekaligus langkah awal kita buat memperkenalkan organisasi ini. Itu tadi yang ngetik siapa coba? Kalau gue mah, ngadain acara ini biar bisa foto-foto di backgroundnya acara, upload di WA story biar keliatan keren. Hahaha (ketawa setan :v) Acaranya ngga berlangsung sesuai ekspektasi kita, ya karena cuaca sangat tidak mendukung. Hujan deras, dan petir menggelegar sedikit menghambat acara kita. Akibatnya, sasaran kader baru banyak yang ngga hadir. Sia-sia? Tentu tidak, seenggaknya konsumsi banyak yang lebih, jatah gue semakin banyak. Seenggaknya, setelah itu ada beberapa kawan yang ngontak gue dan pengin gabung gara-gara gue upload foto sok penting di WA story. Ya, intinya harus berani memulai, gue pikir ini salah satu langkah awal yang berani. Dan buat kalian yang belum pernah ngerasain organisasi, kalian adalah makhluk rugi. Sebenarnya, organisasi itu bikin rugi, capai, pokoknya banyak ngga enaknya, tapi kalian akan rugi kalaau belum ngerasain kenikmatan organisasi.
Ini ceritanya tim paduan suara, dikit kan? Ya karena belum banyak anggotanya. Karena ini awal dari berani memulai.

Narasumber acara

Ada rebananya, namanya Syubbanul Muttaqin pemeriah acara, uwuw

Ya, jadi begitu kawan-kawan. Manfaatkan waktu luang kalian dengan hal yang bermanfaat. Misalnya ya itu tadi, dengan ikut organisasi. Ngapain masa muda hanya dihabiskan dengan online di media sosial, stalking akun sosial media mantan, dan hanya berujung sakit? Nirfaedah sekali. Habiskan waktu muda kalian untuk hal-hal yang bermanfaat. Kalau menurut gue nih ya, sekolah doang tuh nggak bisa memaksimalkan kemampuan, kepekaan, dan kepedulian dengan sekitar. Ikut organisasi itu juga bagian dari belajar, serunya lagi ini nggak hanya sekedar materi belaka yang kemudian diujikan dan mendapat nilai. Disini gue praktek, diujikan di tengah masyarakat secara langsung, dan dinilai oleh masyarakat. Menurut gue itu lebih greget.
Nah, jadi begitu ya. Siapkan mental, kenali sekitar, dan taklukkan dunia! (Apasi :v)
 



Minggu, 04 September 2016

COMEBACK!

2

Aloha!

Akhirnya gue comeback. Udah setahun lebih nggak ngeblog. And now gue udah kelas X MA. Huwew, banyak banget kisah hidup gue selama setahun ini. Mulai dari yang pahit, manis, pahit banget sampai yang sweet banget. Penuh warna. Oke, gue bakalan cerita yang manis-manis ajalah ya. Here we go...
Ini waktu MOPDIBA (Masa Orientasi Peserta DIdik Baru) Temen baru gue banyak

Oke, karena sekarang sekolah gue menerapkan kurikulum 2013, maka di kelas X udah ada penjurusan alias milih program. Gue sendiri waktu kelas IX bingung mau milih jurusan. MIPA? Hmm, gue kan sering tawuran sama matematika, so mana mungkin dengan gampang buat berdamai sama angka-angka biadab itu. Ini bukan pilihan terbaik, ya walapun sebenarnya nyokap nyuruh buat masuk jurusan ini. Tapi gue mikir-mikir lagi, kalau milih jurusan ini, sementara gue sama sekali nggak nyaman, nggak minat, nggak berbakat pula, lah terus buat apa? Sementara jurusan Sosial malah sama sekali nggak ada minat di situ. Satu lagi pilihan yang udah gue incer dari kelas VIII, program Bahasa. Sesuai minat dan mungkin bakat gue. Tapi masalahnya, peluang untuk masuk Universitas untuk program Bahasa itu amat terbatas. Di sekolah gue, cuma ada tiga kelas pula, peminatnya dikit banget. MIPA ada tujuh kelas, Sosial ada enam kelas, setengah dari kelas gue. Satu kelas pun rata-rata hanya ada 30 penghuni, sementara kelas lain bisa mencapai 40 hingga 50 penduduk. Bejubel sih emang. Tapi kalau temannya banyak, otomatis semangat buat jadi yang terbaik juga lebih besar. Gue sendiri masih bingung antara masuk MIPA atau Bahasa. Dalam hati gue sih pengennya masuk Bahasa, tapi ada hati lain yang menginginkan buat masuk MIPA. Gue konsultasi ke beberapa kakak kelas yang udah kuliah, baik yang dari jurusan IPA, IPS, maupun Bahasa. Rata-rata dari mereka menyarankan untuk masuk Bahasa. Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama untuk bersemedi menentukan mana jodoh eh jurusan yang tepat buat gue, akhirnya gue milih Bahasa.
Ini temen-temen gue dari kelas X Bahasa 2


Gue seneng banget, punya banyak teman yang cerewet-cerewet, yang secara otomatis membuat gue terlihat seperti anak pendiam. Huehe. Punya banyak teman-teman tengil, usil, nyebelin, ada aja topik nggak penting yang bisa mereka bikin penting kemudian didiskusikan bersama. Kadang heran sama mereka, tiap hari ada aja yang lucu, tiap hari pasti ketawa bareng. Sesulit apapun tugas, tapi kita semua sama-sama bersinergi buat ngerjain itu. Hal ini pasti nggak bakal gue dapetin kalau masuk program lain, apalagi MIPA, kalau di sekolah gue, beuh anaknya terkenal serius, mereka fokus sama satu tujuan, dapetin podium pertama. Udah gitu, mereka menghabiskan waktu dengan belajar teori-teori yang menyebalkan (Ini menurut gue loh ya, jangan ditanggepin serius-serius amat)

 Gue senang, gue melakukan sesuatu sesuai passion gue. Misalkan itu berat banget, gue tetep melakukan itu dengan enjoy, karena suka. Terasa ringan, namun bukan berarti tanpa hambatan maupun rintangan. Teman sekelas gue hanya 34 orang, sedikit sekali jika dibandingkan dengan kelas lain. Kita kesulitan banget waktu ada lomba antar kelas, susah buat milih anak soalnya. Tapi, semuanya pasti ada plus minusnya, yang paling penting, gue udah memilih apa yang gue suka, menurut hati gue, bukan menurut hati orang lain. Ini pilihan gue, dan gue akan bertanggung jawab atas pilihan gue ini. Misalkan gue kecewa dengan pilihan gue, setidaknya gue kecewa gara-gara diri gue sendiri bukan orang lain. Ini hidup gue dan gue bebas memilih apa yang gue suka.
#SalamSastra

Jumat, 24 Juli 2015

Ceritanya Reunian

3

Sebelumnya, Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin. Iya sih telat tapi nggak apa-apa kan?. Gimana lebarannya? Udah naik berapa kilo berat badannya? Dapet berapa duit dari om tante pakdhe budhe atau siapa aja yang tersesat ngasih uang ke kamu? Berapa rumah yang udah kamu datengin? Udah berapa toples nastar yang kamu habisin?.
Kalo gue sendiri, sibuuuk banget libur lebaran tahun ini, sibuk ngabisin oreo sama good time ditoples. Dari mulai hari pertama gue ke rumah saudara yang ada di desa gue. Kemudian siangnya ke rumah nenek gue dan baru balik ke habitat pas hari kedua lebaran. Lanjut di hari ketiga rumah gue sesak dengan sepupu-sepupu gue. Mereka semua ngumpul dirumah gue.

Sebenernya yang paling berkesan itu hari keempat sama hari ini, soalnya hari pertama, kedua, ketiga lebaran itu memang udah jadi agenda wajib keluarga gue untuk ngumpul bareng. hari keempat bersama pasukan temen-temen alumni MI Nahjatul Falah kita ngumpul bareng. Sebenarnya rencana yang dibuat itu kita semuanya ngumpul bareng yang jumlahya  34 anak. Ah, itu harapan susah didapetnya yang dateng cuma beberapa gelintir doang. Karena mereka yang ditungguin nggak dateng juga, akhirnya kami gelintiran anak doang memutuskan untuk segera capcus dari tempat ngumpul untuk bersilaturrahmi ke rumah guru-guru MI. Fakta yang didapat dari lapangan, sebagian dari guru-guru tersebut udah asing sama wajah-wajah kita.
Ini waktu dirumah guru, gue yang paling depan

Gue sendiri sempet aneh sama beberapa wajah teman gue, mereka tuh sedikit banyak ada perubahan. Maklum lah bisa ketemu dan ngmpul bareng sama mereka setelah lulus adalah hal yang langka. Dari segi wajah, mereka sih nggak ada perubahan, mungkin suara aja yang agak berubah, sifat dan cara berpikir mereka juga udah berubah. Sebenarnya banyak banget kenangan yang pengin diceritain kembali alias flashback kalau lagi ngumpul bareng temen. Gue sendiri juga nggak banyak yang inget tentang peristiwa-peristiwa yang udah terjadi waktu MI, hanya yang menurut gue terkesan aja yang paling gue inget.

Nah karena pas hari keempat itu nggak pada ngumpul semua, akhirnya hari ini agendanya kita ngumpul bareng. Semacam reuni gitu, eh emang reuni ding. Menurut gue, kalo reuni  ada rentetan acaranya itu pasti nggak enak banget. Reuni itu temu kangen, jadi kalau udah ketemu, melepas rindu, ngobrol bareng, flashback bareng, gosipin hal yang lagi hits tentang temen  itu juga udah reuni kok.

Oh ya makasih banget buat Nina (bukan nama samaran) yang udah ngasih tempat kita untuk ngumpul bareng. Dikasih makan pula, yang paling bikin top sih semuanya GRATIIIIS, yuhuu. Btw, sorry ya rumahnya udah diacak-acak. Terimakasih semua, semoga kita bisa berkumpul kembali pada kesempatan yang akan datang!

Bonusnya, yang nggak ketinggalan adalaah...
Wefie!!


Gue(jilbab ijo), Nina (empunya rumah), Salma (temen paling gokil)

Minggu, 14 Juni 2015

Remidi itu...

0

Akhir-akhir ini gue itu kayak sengaja buat nelantarin blog horor ini, bukan karena gue sibuk sama tugas yang bejibun tapi karena malas aja. Banyak alasan yang gue buat, misalnya, ntar aja ah, buka facebook dulu, cek twitter dulu, pipis dulu *eh. Padahal sebenarnya buanyak buanget cerita-cerita nggak penting yang pengin gue buang ke blog ini. Ya, melawan rasa males itu susahnya minta ampun.

UAS nyebelin selama dua minggu itu bikin gue pusing dan nggak betah. Tempatnya yang nggak wow, ditambah sama celotehan kakak-kakak kelas gue yang nggak wow juga. Bukan pelajaran yang dibahas atau tentang berapa banyak upil gue, bukan. Tapi ngebahas soal jumlah pacar mereka, dasar!. Bangga banget lagi waktu bilang kalau semalem mereka nggak belajar. Udah gitu nyanyi-nyanyi nggak jelas, lagunya nggak wow banget. Bikin kuping pecah aja.

Untungnya cuma dua minggu, kalau setahun mending gue pindah aja tuh. Dua minggu yang nista. UAS udah lepas, gue bebas, tapi semuanya belum tuntas. Jadi hari Selasa, ada penerimaan raport. Pokoknya gue terima apa adanya semua angka yang telah gue lahirin dari kerja keras gue. Mau bagus ataupun jelek yang penting itu kerja keras gue, ya walaupun kadang gue make alternatif alias nyontek. Hehe. Cuma dikit doang. Nggak apa-apalah, anggep aja sedekahnya temen sama gue. Huehehe.
Gambarnya gue ambil dari 1cak. Pas banget sama ekspresi gue.

Kadang ekspektasi sama realita itu nggak sama kan ya, jadi gue selalu menurunkan ekspektasi gue kalau lagi ngerjain soal ujian. Misalnya, banyak temen gue yang bilang kalau soal matematika kemarin pas ujian itu mudah, tapi tetep aja gue nganggep kalau matematikanya itu sulit. Beda tipis sih, antara nurunin ekspektasi sama emang kagak bisa. Kadang banyak banget temen gue yang bilang kalau soalnya gampang-gampang eh ujungnya remedi. Kecewa deh.

Ngomong-ngomong soal remedi, sebagai pelajar gagal gaul yang kamvret ini gue juga ikutan remedi. Bukannya gue goblok tapi biar punya cerita aja. Saat gue sukses nanti gue bisa cerita tentang pengalaman ini. Biar keren. #Azek. Jadi kesannya perjalanan hidup gue itu nggak mulus-mulus aja, biar pernah belok gitu. Biar pernah ngerasain kena masalah. Manusia diciptain sama Tuhannya itu pasti juga dikasih masalah, dan Tuhan juga nggak lupa nyediain otak buat manusia. Jadi tergantung manusianya, bisa kreatif manfaatin otaknya apa nggak, kalau cuma ngeluh doang ya nggak kelar-kelar tuh masalah. Jadi gue bisa cerita-cerita sama anak cucu gue kelak, kalau kita sedang jatuh itu cuma hanya ada dua pilihan, mau bangkit atau tetap jatuh. Dengan remedi ini, seenggaknya gue punya bukti bahwa gue pun pernah jatuh. 

Kalau hidup lu gitu-gitu aja, pasti nggak azek banget. Ya kalau mau hidup, jangan cuma mau enaknya doang, harus mau susahnya juga. Begitupun anak sekolah, kalau mau nilai yang bagus jangan cuma mau nilai bagus, tapi harus mau susahnya juga.  Gitu.

Remedi bagi gue itu sesuatu. Sesuatu yang sulit untuk dijelaskan. Malu iya, sedih, lucu juga iya. Kalau ikut remedi itu bukan berarti nggak bisa kan ya. Relatif. Pinter itu relatif, nyontek itu alternnatif. 

Ngomong-ngomong soal Pinter itu relatif, nyontek itu alternatif, ini adalah tagline buku barunya Ko Kevin Anggara, judulnya sama kayak buku yang sebelumnya, cuma beda tagline doang. Banyak banget yang udah beli secara online bukunya doi di toko buku online. Tapi biar greget gue belinya di toko buku aja. Biar bisa keliling-keliling di toko buku. Hehehe. Nggak apa-apa deh nunggu, yang penting punya bukunya. Sebenernya di toko buku katanya udah ada sih, tapi  di toko buku terdekat gue belum ada. Sabar.








Jumat, 27 Maret 2015

Pacaran? No

0

Sekarang ini, banyak cabe-cabean yang udah ganti nama jadi terong-terongan. Haha nggaklah. Yang jadi cabe tetep jadi cabe, yang jadi terong tetep terong. Ya, ini nggak ada sangkut pautnya sama judul di atas.

Gini, gue di sini mau bahas tentang fenomena pacaran. Pacaran kebanyakan identik sama anak remaja. Tapi nggak dipungkiri anak kecil juga pacaran. Gue pernah nemuin anak SD juga pacaran, kira-kira usianya 10 tahunan. Dan mereka pun nggak malu-malu buat menunjukkannya sama publik, seperti memperlihatkannya di Facebook, gue ngeliat aja sampai geleng-geleng kepala. Anak masih unyu-unyu gitu kok udah kayak gini. Bagaimana nasib Indonesia di masa depan?

Beberapa temen gue juga ada yang pacaran. Awal pertama hubungan, mereka pasti buat status yang so sweet, foto bareng, ya taulah. Tapi ketika mereka putus, home facebook gue pasti rame sama perang ketiga antara mereka berdua. Ngeluarin kata-kata kotorlah, ngungkapin aibnyalah. Bikin nggak asik aja deh. Kenapa ngeluarinnya nggak pas waktu pacaran coba? kan lebih greget, biar sekalian putusnya cepet?, ya nggak sih. Gue sebel banget sama yang kayak gini.


Menurut gue, pacaran itu terlalu sedikit manfaatnya dan banyak mudharatnya. Bayangin, setiap mereka putus dengan satu orang, pasti dia nggak bakalan berhubungan lagi sam mantannya. Kalaupun berhubungan pasti ada rasa "engh" diantara mereka berdua, nah saudara kita berkurang. Yang awalnya nggak canggung buat minta tolong sama doi akhirnya ada rasa canggung. Nggak nguntungin banget.

Berdasarkan survey yang gue lakukan dengan temen-temen gue mereka punya alasan buat pacaran.

Pertama, mereka beranggapan bahwa pacaran itu bisa bikin lebih semangat belajar. Ini cuma mitos, mitos. Mana mungkin bisa semangat, orang baru mau buka buku aja sms masuk, bbm bunyi. Terus lanjut sms-an, bbm-an. Gituuu terus sampai mau ngupil aja susah. Dimana belajarnya hah?.

Kedua, Biar nggak jomblo. Apa salahnya sih kalo jomblo?, jadi bahan ejekan temen-temen?, cuek aja lah. Justru dengan jomblo, lo bagaikan punya banyak pacar. Ya, karena ketika temen lo yang A lagi nggak ada, lo bisa ke temen yang B. Misal hari ini lo nggak dapet gratisan dari temen yang C, kemungkinan lo bisa dapet dari yang D. Enak kan?

Bersahabat itu lebih baik ketimbang pacaran, kenapa? karena ketika lo pacaran, pasti ada putus. Tapi kalau sahabatan putus itu sesuatu yang mustahil. Pernah lo denger kayak gini:
A:
Sekaranglebih baik kita putus aja deh jadi sahabat, gue nggak cocok sama lu
B:
Jangan dong, aku masih pengin sama kamu..
Ada yang kayak gitu?, jarangkan?. Sahabat itu cenderung lebih setia daripada pacar. Curhatan kita pasti yang nampung sahabat, bukan pacarkan?. Kalo ada apa-apa di kelas atau sekolahan, tempat yang di tuju juga sahabat. Lebih untung mana?


Di usia remaja saat ini, pasti kalo butuh uang sama orang tua. Orang tua susah-susah buat cari uang, eh pas uang udah ada buat biaya pacaran. Buat beli pulsa untuk balesin smsnya pacar. Iih nggak modal banget. Pipis aja belum lurus, kok udah pacaran, ntar aja, benerin pipisnya dulu. Kalau udah lurus nah boleh dah tu buat pacaran.

Jangan pacaran dulu deh, belajar yang bener. Ntar aja kalau udah gede. Minimal udah kuliahlah. Udah punya uang sendiri, jadi nggak minta sama orang tua. Lagian pacaran waktu remaja apa untungnya. Pacaran sama matematika aja belum bisa, udah pacaran sama manusia. Santai aja lagi.


luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com